Senin, 29 April 2013

SEJARAH SUMEDANG LARANG


 KASUMEDANGAN

Kasumedangan merupakan muatan local yang hanya dipelajari di  SMK PASA , sehubungan dengan kurikulum yang kini tengah dipakai untuk terwujudnya sumedang puseur budaya sunda dan pembentukan generasi muda berkarakter budaya lokal.
Pokok-pokok pembahasan diantaranya :
1.       Sejarah Sumedang
Sumedang berasal dari kata “INSUN MEDAL” yang berarti Aku Lahir dan “INSUN MADANGAN” yaitu Aku Menerangi . Diikrarkan oleh Prabu Tajimalela ketika melihat malela (selendang) menyerupai taji di angkasa.
Batas-batas sumedang :
1.       Dari Barat yaitu sampai tangerang tepatnya di sungai Cisadane
2.       Dari Timur yaitu sampai brebes tepatnya di sungai atau kali Cipamali.
3.       Dari Utara yaitu Laut Jawa.
4.       Dari selatan yaitu Samudra Hindia.
Tonggak sejarah bagi kerajaan sumedang larang , sebagai kerajaan sunda terbesar , setelah kerajaan padjadjaran runtuh akibat serangan gabungan banten dan Cirebon, maka kerajaan sumedang larang mencakup wilayahbekas kerajaan padjadjaran.Tonggak sejarah itulah menjadi dasar : Hari Jadi Sumedang.
Pembaca yang budiman pada waktu itu di Kerajaan Sumedang Larang akan diadakan pengangkatan seorang raja, ialah Raden Wijaya , di Padjadjaran sedang ditempa kekacauan karena mendapat serangan yang mendadak dari Kerajaan Banten. Serangan tersebut bertujuan untuk menghancurkan kekuasaan agama hindu dan digantikan oleh dinul islam . Pada penyerangan dari Banten dipimpin oleh Syeh Maulana Yusuf.
Ketika mendapat serangan dari Banten yang mendadak itu Padjadjaran tibak bisa berbuat banyak, kecuali menerima kekalahan. Kerajaan Padjadjaran porak-poranda masyarakat banyak mengungsi sehingga rajanya pun (Prabu Siliwangi) berangkat meninggalkan kerajaan. Hanya sebelum berangkat beliau memanggil dulu empat patih kepercayaan Kerajaan (Kandaga Lante) , yang masing-masing ialah :
1.       Sanghiyang Hawu (Embah Jaya Perkasa)
2.       Bantara Dipatiwijaya (Embah Nanganan)
3.       Sanghiyang Kondang Hapa
4.       Batara Pancer Buana (Eyang Terong Peot)
Panggilan Sang Prabu Siliwangi berisikan yang berupa amanat yaitu :
1.       Memberikan Mahkota Kerajaan Padjadjaran yang berupa :
-Mahkota Kerajaan yang dibuat dari emas
-Siger tampekan kilat bahu
-Kalung bersusun dua dan bersusun tiga
Semuanya dibuat dari emas dan sekarang masih ada di Museum Sumedang.
2.       Memohon perlindungan untuk dirinya dan seluruh rakyatnya yang masih berada di wilayah Padjadjaran. Menurut bahasa Prabu Siliwangi ialah Geusan Ulun yang berarti Geusan Kumaula (Tempat Kumaula).

Setelah menerima amanat tersebut maka kandagalante yang empat sepakat bahwa yang pantas menjalankan amanat tersebut tiada lain adalah raden angka wijaya . ini berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diantaranya :
1.       Karena Raden Angka Wijaya adalah asli keturunan Prabu Siliwangi .
2.       Sangat pantas sekali (payus tur pantes) wilayah kekuasaan Padjadjaran dijadikan Kekuasaan Sumedang Larang.

0 komentar:

Poskan Komentar